di malam yang dikepung ribuan ingatan dari satu wajah
di antara wangi dan bau kenangan serta kecemasan dari dering keinginan waktu
kusebut kau dengan doa

riang malam berseliweran di tubuhku
kutepuk harapan di pundak waktu
takdir menggerai pikiran-pikiranku

aku suka senja juga suka malam serta fajar
dan aku tak suka mereka berlama-lama diam di tubuku
karena aku resah terlalu banyak kenangan harus kupeluk

aku percaya bahwa syurga dan neraka hanya ada dalam pikiran
maka aku kembali ke dalam kalbu tempat syurga dan neraka dibangun

di simpang malam mimpi berhenti karena rambu malam menyala juga menyalak
muda, tua dan kesepian adalah siklus di rambu itu

purnama di depan mataku
serupa perut ibu hamil 7 bulan
aku melihat aku

aku tiba-tiba ingin menjadi ibu yang melahirkan puisi seperti diriku
berlayar di atas desa-desa yang tenggelam oleh lumpur

kujemput kau di stasiun mimpiku nanti malam
aku datang dengan membawa kelupaan-kelupaan
dan jangan heran ataupun bingung bila kedatangan dan keberangkatan
tak pernah jelas, maka biasakan saja seperti kita membiasakan pertemuan yang tak pernah pasti

antara stasiun,pasar dan terminal serta hiruk pikuk debu juga deru mesin yang liar
disanalah kau kujemput lalu berjubelan mimpimu masuk ke dalam mimpiku pun harapan-harapan(hati-hati seringkali doa dicopet bahkan sampai dirampas) biasa saja kalau hanya doa yang terjatuh atapun tertinggal dan lupa di antara itu semua

hatiku masih biru kehijauan
bila duka sudah tak cukup di saku perjalananmu
maka biarkan melekat di tubuhku

walau tak kutemukan namaku tapi aku bertemu diriku
lalu kutemukan nama-nama kebanyakan orang
ingin ditulis dimana-mana

kepada perempuanku : aku raganya kau adalah ruhnya

matarindu menyala melihat tetes demi tetes ingatan di matawaktu

aku membenci sekali penguasa di negeri ini sekaligus menaruh perhatian kepada mereka

Ragaku akan hancur
melebur dan menyatu dengan tanah
kelak
yang tertinggal hanya ‘puisiku’ di tubuhmu
tersenyumlah, berbahagialah ‘puisi’ itu terus hidup
Doakan aku seperti ‘puisi’ mendoakan apa saja

ketika kita dari tanah dan biji-biji emas itu biasa bagi tanah kenapa kita biadab tambang sekali

gahru di hutan biasa
ikan di laut biasa
timah dan minyak dilapisan bumi biasa
sampai di bangku kekuasaan jadi biasa rakus

bila purnama terus menerus datang bagaimana kelak nelayan begitu tergila-gila dengan ikan
lalu apakah laut akan terus menaruh rindu pada purnama

ini rasa asin, rasa paling dekat dengan kita

bila srigala dan peluru tidak melesat apakah akan mengenai sasarannya

indahnya cinta teramat indah ketika berulang kali dukaluka cinta itu datang

dengan waktu yang terus berputar maka bersyukurlah, berbahagialah
karena kebosanan tidak diam dalam diri

bulat hitam bola matamu menyimpan malam yang dalam
putihnya adalah awan yang riang dengan hujan
ukirlah langit dengan matamu ketika jarak begitu nyata dengan nestapa
percayalah kemungkinan itu slalu ada

biarkan cinta mengalir bila diam akan keruh nanti

cinta bukan hanya dinyatakan karena cinta membawa semesta didalamnya
langit dan bumi sayapnya

jarak ini gelap dan kosong jalan menujumu adalah puisi yang kutaruh dalam rahimmu
ambillah
biarkan puisi itu membacakan kita

tempatkan cinta di hati
tempatkan ilmu di hati
tempatkan puisi di hati
karena hati adalah tuhan bagi diri kita sendiri

jadikan buku dan dirimu seperti romeo dan juliet lalu menulislah
seperti kau bernafas satiap saat karena ‘iqra’ wahyu pertama
dan menulis obat bagi lupa, tali ingatan untuk usia

Terbit
perjalanan musim dalam tubuhku
terbenam
di atas kenangan

yang baik adalah menjaga ingatan
karena matahari tak pernah lupa muncul dari timur dan tenggelam di barat
kesadaran matahari juga kesadaran kita terhadap rasa asin dan rasa asam

waktu mempertemukanku dengan puisi
tiap katanya menjaga ingatan

hari dalam waktu adalah perubahan
bukan penantian karena hari bukan ruang tunggu ketika waktu setia berputar

kematian itu istilah bagi antrian di dunia lain
kelahiran itu pun istilah selamat datang
maka hidup merupakan keanggunan rasa, pikir dan gerak

setelah Tuhan adalah laki-laki dan perempuan yang memutar waktu
lalu bagaimana laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan
ataupun laki-laki dengan laki-laki dan perempuan sekaligus, begitupun sebaliknya
maka dari itu, kelamin adalah sejarah bagi waktu yang tak terhapuskan
dan mari kita menyikapi keberadaan waria, banci, gay, homo, lesbi, dan bisex
dengan bijak dan santun, karena mereka ikut memutar dan memeriahkan per-putaran waktu menjadi lebih beragam dan bermacam serta menjadikan pilihan adalah kebebasan yang sebebas-bebasnya bagi suatu individu dalam memilih.

jam ; jarumnya adalah matahari, bulan, dan musim
angka-angka itu adalah tanah
bentuk jam itu sendiri merupakan bentuk dari hidup

malam menempa sepi kepala sebagai sunyi yang nyala
Suatu per jarak menderita dalam rindu yang sempurna
kenangan pun memerah
kita seperti menanam rindu dari biji-biji ingatan

waktu begitu menyengat lalu beberapa kisah menceritakan nada rindu bertalu
hujan dalam rindu petani yang nyeri jatuh seperti derap cinta gerombolan penyair
puisi berisik mengganggu dada dan kepala para pecinta

Dalam sunyi yang nyala
kita seperti mata air yang terus meneteskan rindu pada jarak berbatu
rindu yang keras kepala
jarak yang setia memimpikan temu
itu kita

Bagian dari malam ini yang kelak akan kau ingat setelah ketiadaan datang
berakar dikekosongan tumbuh dalam kehampaan
cabangnya mungkin air mata dan senyummu
buahnya yang matang dicumbu matahari dipetik bulan
karena malam itu terbuat dari doa
langit dan bumi bersepekat menyimpan mimpi
tumbuhan dan hewan menjaga ingatan
lautan membawakan harapan
gunung-gunung menjadi tunas hijau dalam kalbu
kita berada di antara waktu yang menjadikan mereka seperti berabad lalu

bagian dari malam ini yang kelak akan kau ingat setelah ketiadaan tiba
akal jadi tabu yang kucoba kenalkan padamu
mungkin memasuki kembang air matamu
kita tetap berbicara namun dengan bahasa malam itu
bahasa yang tak akan dihapuskan masa
bahasa jagat alit kita

Ni gamelan suara dari syurga
sombaya terhanyut
mengajakku ke dalam lipatan waktu silam.
Ni marsinah matahari meleleh dibeku salju
khatulistiwa lumer dimimpi suri
waktu demi waktu memburu si pemburu perkasa
monsieur bip bop membawaku ke bawah tanah kelupaan
surat kaleng dari langit jatuh diharapan kita
panggil aku si pelupa malas

Malam menyebar sampai di langit
di awal musim hujan
keramaian ingatan memenuhi perjalanan
di tubuhku cerita-cerita berjatuhan
sebagian terbengkalai
di sana dan di sini
dalam cuaca basah dan kering
perjalanan memberi petunjuk pada kemungkinan dan peristiwa tersembunyi
sepi menjadi penyelundup rasa kesendirian tak terduga

——- ——- ——— ———
———————————-

Pagi menyebar sampai di tanah
di awal musim hujan
perjalanan indah hanya milik kesiapan

TUHAN

dan puisi ini tetap puisi kecil

dari sejumlah malam

berjalan bersama kelam

berlinang dan sendu

ketika gelap mengeluarkan
kesedihan dari matamu
yang lebih sedih
dari bencana dan perang

aku memilih hidup
seribu tahun lagi
karena orang-orang masih hidup dalam sistem
yang lebih buruk dari bencana dan perang

Rindukah kau yang bicara dalam jarak
Berenang dalam sunyi
Di dalam kalbu dan pikiran
berlayar dari rindu ke rindu di empat penjuru angin
menjalankan tualang kenangan dari rindu

Menjadi pecandu rindu
membawa cerita demi cerita
sunyi mengucur diam-diam
menyayikan lagu sepi meski tak slalu nyeri

Rindukah kau yang mencandai sunyi
memampangkan kenangan sebagai peta bagi rindu
walau tanpa janji untuk mengingat-ingat tak pernah lupa menyalami
dan memberi senyuman sebagai pertanda
pada arti bintang-bintang bagi kesendirian

Ingatan di luar
ingatan di dalam
masih menggetarkan tubuh
ketika sunyi mengecup ujung rindu
dirimu hadir seperti nyata

menyaru jadi apapun

simpang malam-agustus-2007

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.